Senin, 28 Juni 2010



Di Bawah Puing Kekuasaan

Kaulah yang hidup di puing-puing keterbatasan
Kau menikmati kekalahan dari orang-orang yang lebih
Terkadang, kau jadikan malam sebagai tempat pesembunyian di balik kecaman mereka
Kau beranikan diri untuk tinggal di atas permukaan sungai yang kumuh

Kau biasakan menghirup udara kumuh setiap pagi
Sampah-sampah adalah penyambung kehidupanmu
Diterkam malam dan siang, berselimut kusutnya kain, kau istirahatkan setiap kau merasa lelah
Kamu adalah anak kecil, kamu adalah masa depan, setiap orang berharap kepadamu

Mengapa kau tetap dihidupkan?
Mengapa engkau menghiasi jalanan?
Mengapa engkau tak pernah berdoa?
Ataukah doamu belum terkabul!
(Tertulis, 21 Juli 2010)

Rabu, 23 Juni 2010

Perlahan namun pasti, keadaan ini semakin membaik. Persoalan-persoalan yang menjadi beban belakangan ini satu persatu telah hilang dan takan kembali. Aku jadikan itu sejarah terbaik dalam hidupku. tidak akan aku sia-siakan sehari pun terlewatkan dengan percuma. Tuhan selalu memberi kesempatan di setiap harinya. Tidak akan aku sia-siakan!

Senin, 21 Juni 2010



Pare, adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Terletak 25 km sebelah timur laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya. Pare berada pada jalur Kediri-Malang dan jalur Jombang-Kediri serta Jombang - Blitar. Sudah lama ada wacana Pare dikembangkan menjadi ibu kota Kabupaten Kediri, yang secara berangsur-angsur dipindahkan dari Kota Kediri. Namun niat ini tidak pernah serius dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten atau para Bupati yang menjabat. (mulai era Bupati H. Sutrisno, Wacana tersebut akhirnya benar-benar dibatalkan, karena akan mendapatkan protes dari warga di sebagian wilayah Kabupaten Kediri, terutama di daerah selatan-seperti Kras, Ngadiluwih, Kandat dan Ringinrejo dan di daerah barat sungai Brantas-seperti tarokan, Grogrol, Banyakan, semen dan Mojo. Sehingga diambil jalan tengah dengan menempatkan Pusat pemerintahan di wilayah Kec. Ngasem Kediri, tepatnya di Ds. Sukorejo (biasa disebut Katang) dan akan juga dibangun Pusat Bisnis di Wilayah Kota Baru Gumul.)

Kota Pare yang berada pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut ini mempunyai udara yang tidak terlalu panas. Berbagai jenis jajanan dan makanan enak dan higinis dengan harga "kampung" dapat dijumpai dengan mudah di kota kecil ini. Berbagai infrastruktur dan fasilitas kehidupan kota juga dengan mudah dapat dijumpai: hotel, rumah sakit (yang besar HVA dan RSUD rumah bersalin yang lengkap pun juga ada), ATM bersama, warnet 24 jam ber-AC, dsb.

Pare memiliki tanah yang subur bekas letusan gunung Kelud dan tidak pernah mengalami kekeringan. Produk agraria andalan dari Pare adalah bawang merah, biji mente dan blinjo. Sedangkan oleh-oleh khas dari Pare antara lain adalah tahu kuning dan gethuk pisang. Di Pare sudah lama bermunculan industri menengah bertaraf internasional, seperti industri plywood dan pengembangan bibit-bibit pertanian. Tempat-tempat rekreasi pun telah ada semenjak tahun 1970-an meskipun sederhana, seperti Pemandian "Canda-Bhirawa" Corah dan alun-alun "Ringin Budo"serta sentra ikan hias di dsn Surowono Desa Tertek.

Pare terutama Desa Tulungrejo juga dikenal mempunyai potensi pengembangan kursus Bahasa Inggris. Saat ini lebih banyak bermunculan berbagai jenis bimbingan belajar terutama kursus-kursus Bahasa Inggris. Lebih dari 20 buah lembaga bimbingan belajar menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan program program D2, D1 atau short course untuk mengisi waktu liburan. Dalam hal ini, kota Pare sebagai pusat belajar Bahasa Inggris yang murah, efisien dan efektif sudah terkenal hingga keluar Pulau Jawa. Sebagai efek ikutannya, di daerah Tulungrejo sekarang muncul berbagai jenis tempat penginapan dan kost yang menampung para pelajar dan maupun pekerja. Tarif kos per orang bervariasi dari 50 ribu hingga 200 rb per bulan.

Kecamatan Pare menjadi terkenal di seluruh dunia karena di sinilah antropolog kaliber dunia, Clifford Geertz - yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral - melakukan penelitian lapangannya yang kemudian ditulisnya sebagai sebuah buku yang berjudul The Religion of Java. Dalam buku tersebut Geertz menyamarkan Pare dengan nama "Mojokuto". Di Pare, antropolog ini sering berdiskusi dan berkonsultasi dengan Bapak S. Sunuprawiro (alm), waktu itu menjadi wartawan Jawa Pos. Pak Sunu merupakan salah satu narasumber yang membantu antropolog tersebut dalam menyelesaikan bukunya.

Pare termasuk kota lama. Ini terbukti dari keberadaan dua candi tidak jauh dari pusat kota, yakni Candi Surowono dan Candi Tegowangi, serta keberadaan patung "Budo" yang berada tepat di pusat kota. Ketiga peninggalan ini membuktikan bahwa Pare telah lahir ratusan tahun lalu. Hanya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti kapan kota Pare berdiri dan siapa pendirinya.

Pare merupakan KOTA adipura. sekolah sekolah faforit banyak berdiri di kota pare ini dari TK-SMA negeri. seperti TK negeri SDN pare 5 DLL madrasah ibtida'iyah. juga MtsN Model Pare dan SMP N 2 yang paling terkenal, di tangkat SMA ada SMA N 1 dan 2 merupakan SMA kelas Internasional dan juga ada MAN Krecek. (Wikipedia, 21 Juni 2010)

Sabtu, 19 Juni 2010



Aku terlunta-lunta, menikmati kesibukkan yang berlebihan. Keadaan memaksaku untuk menerobos hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku seperti di atas ombak yang tidak pernah tenang sampai ke daratan. Aku masih bertahan, aku tetap membasuh kening. Hingga satu persatu lenyap tergantikan sepercik mentari pagi. ketenangan di mana engkau sembunyi. Kenangan seperti dahulu yang ku mau. Aku tidak ingin terus seperti ini. Aku ingin keluar lepas dari derasnya ombak.

Senin, 14 Juni 2010

Apa Bisa?


Menghadapi cobaan hidup tidaklah mudah. Selalu ada yang indah dan buruk. Saat kita merasakan nikmatnya kemenangan, kita sejenak lupa susahnya kepedihan. Apakah kita bisa? melawan keadaan yang begitu nyata. Pahitnya kenyataan, pahitnya merasakan. Tuhan di atas sana tidaklah tidur sedetikpun. Dia melihat, mendengar, merasakan yang kita alami. tidakkah kita sadar, jika semua itu berasal darinya? Lalu, kenapa jarang kita kembalikan kepadanya? Sabarlah, tenanglah, kuatkanlah. semua ini akan berlalu.

Minggu, 13 Juni 2010

Lebih Baik di Sini.


Aku merasa tenang dan nyaman ketika berada di tempat ini. Namun, sekarang aku telah pergi. Aku selalu berharap bisa kembali di sini dengan teman-teman yang hadir di foto itu. Kapankah bisa kembali?

Jumat, 11 Juni 2010

Kebersamaan?

Bangsaku tidak pernah menangis. Hanya saja bersedih meratapi anak-anaknya hidup dalam kegelapan. Habis sudah air matanya untuk menangis. Terlalu lama sakitnya ditahan. Selalu seorang diri, selalu berusaha sendiri, lalu dinikmati sendiri.

Ingin Tetap Ada

Kebebasan jangan dimanfaatkan untuk hal yang tak berguna. Karena masa depan telalu penting jika kita habiskan bahannya sekarang. (11 Juni 2010)

Senin, 07 Juni 2010

Andakah Penikmat Sejarah?

Keindahan sejarah tak mampu lagi membangkitkan semangat generasi Indonesia saat ini. Anak Indonesia lebih suka beradaptasi dengan kehidupan modern. Mereka seakan lupa, kenapa mereka hidup di Negara yang merdeka. Para pahlawan yang berjuang membebaskan Bangsa dan Negara dari penjajahan, hanya menjadi sebuah simbol yang tak bermakna. Mereka hanya dikenang di hari-hari tertentu. Bahkan, tidak banyak dari mereka telah dilupakan.

Keadaan seperti inilah yang membuat Bangsa dan Negara kita sulit untuk maju. Generasi muda adalah tulang punggung kehidupan Bangsa dan Negara sekaligus sebagai sarana untuk memakmurkan Bangsa dan Negara. Tak dapat dipungkiri, sekarang ini lebih banyak beredar film-film horor dari pada film perjuangan. Jika kita simak secara mendalam, apa manfaat setelah kita nonton film horor? Bahkan, film seperti itu sering berbau pornografi. Bermanfaatkah?

Mari! Kita nikmati sejarah panjang Bangsa dan Negara kita. Kita hidupkan lagi makna-makna perjuangan. jadilah penikmat sejarah maka sejarah itu akan mencatatkan anda dalam kisahnya. ( 8 Juni 2010)

Jumat, 04 Juni 2010

ketidak berdayaan

aku telah berusaha untuk meyakinkan dia. namun, dia selalu menganggap aku salah. aku sungguh tidak berdaya.