Jumat, 23 Juli 2010
Salah satu bentuk makmurnya sebuah Negara selain dipandang dari segi ekonomi dan militer adalah dengan meratanya pendidikan di Negara tersebut. Dengan meratanya pendidikan ke seluruh penjuru mulai dari desa hingga kota, menandakan Negara itu telah sukses melayani rakyatnya dengan pendidikan yang bagus dan terfasilitasi.
Apa yang terjadi dengan pendidikan Indonesia? Sangat antiklimaks. Perbedaan itu dapat kita lihat antara pelajar desa dengan pelajar kota. Jika dilihat dari cara berpakaian saja, antara pelajar desa dengan kota begitu berbeda. Apalagi jika dilihat dari segi fasilitas, yang pastinya sangat jauh berbeda lagi, bagaikan langit dengan bumi.
Data UNESCO tentang peringkat Indonesia dalam bidang pendidikan, EDI (education development index), Indonesia berada di urutan 65 di antara 128 negara di dunia. Yang jelas, education development index Indonesia adalah 0.935 di bawah Malaysia (0.945) dan Brunai Darussalam (0.965). Sedangkan data tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) yaitu komposisi dari peringkatan pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan perkepala menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia pada 2010 menempati urutan 111 dari 182 negara yang di survei. Di antara Negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia masih kalah oleh Singapura (peringkat 23/HDI 0.944), Brunai Darussalam (peringkat 30/ HDI 0.920), Malaysia (peringkat 66/HDI 0,829), Thailand (peringkat 86/ HDI 0,783) dan Filipina (peringkat 105/HDI 0,751). Namun, HDI Indonesia masih lebih baik dari Vietnam (116) dan Laos (133).
Menurut survei Politic and Economic Risk Consultant (PERC), menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Dari survei itu, dapat kita lihat betapa burukunya pendidikan Indonesia di banding dengan Negara Asia Tenggara lainnya. Beberapa penyebab terpuruknya pendidikan Indonesia antara lain:
Ketidakmerataan
Dengan wilayah Negara yang cukup luas, pemerintah Indonesia harus berupaya memfasilitasi sekolahan mulai dari Sabang sampai Merauke. Termasuk sekolahan di desa. Jika dilihat di lapangan, upaya memfasilitasi ini masih belum berjalan dengan maksimal. Sebagian sekolahan telah mendapatkan dan sebagaian lainnya belum. Sekalipun ada sekolahan yang mendapatkan dana, tidak seutuhnya dana dari pemerintah murni 100% sampai ke sekolahan tersebut, terlebih jika sekolahan itu berada di daerah pelosok.
Seharusnya, fasilitas sekolahan di daerah pelosok lebih di utamakan dari pada sekolahan di perkotaan. Karena sekolahan di pelosok lebih banyak membutuhkan fasilitas untuk mencukupi kebutuhan belajar mengejar. Namun sangat berbeda jika kita lihat pada kenyataannya. Sekolahan di kota semakin berlari kencang meninggalkan sekolahan di pelosok. Ketika sekolah pelosok berjuang untuk mendapatkan fasilitas secukupnya, sekolahan di kota justru berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan sebagai Sekolah Berstandar Internsional (SBI).
Bahaya korupsi
Sebenarnya kucuran dana yang merupakan upaya dari pemerinta pusat telah maksimal. Namun di tengah jalan banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab lalu menyelewengkan dana tersebut. Orang-orang koruptor mengambil kesempatan di atas penderitaan saudaranya yang lebih membutuhkan. Korupsi dianggap telah menjadi sebuah budaya. Sejujurnya, sederhana saja, semuanya pasti berjalan dengan baik jika oknum pemerintah tidak melakukan praktek KKN.
Korupsi telah menjalar di semua bidang di Negara kita ini, termasuk bidang pendidikan. Itulah sebabnya, dana yang di berikan untuk sekolah-sekoah di daerah pelosok tidak penuh 100% diberikan. Dana-dana itu habis di tengan jalan. Nah, siapa yang menjadi korban?
Perbedaan fasilitas
Pemerintah daerah memiliki program tersendiri untuk memajukan daerahnya masing-masing. Dengan adanya otonomi daerah, masing-masing daerah punya wewenang lebih untuk mengelola hasil daerahnya. Masalahnya, tidak semua daerah memiliki potensi yang sama. Beberapa masalah juga, daerah itu lebih mementingkan sektor ekonomi ketimbang sektor pendidikan. Daerah di seluruh Indonesia memiliki potensi yang beragam. Seperti batu bara di Kalimantan Timur, minyak di Papua, sawit di Sumatera.
Dengan penghasilan yang berbeda itu, APBD-nya pun berbeda-beda. Ketika akan mengucurkan dana, pemerintah daerah harus menimbang pilihan yang tepat. Masing-masing daerah memiliki kebijakan tersendiri dalam menentukan keputusan, termasuk pencairan dana ke bidang pendidikan di daerahnya. Terkadang, dana yang di berikan untuk bidang pendidikan sangat minim. Padahal, sekolahan butuh dana untuk memfasilitasi sekolah.
Seperti kita ketahui, dengan tingkat kemiskinan Indonesia relatif masih tinggi. Sebagian besar masyarakatnya lebih banyak tinggal di desa (dapat di katakan hampir 75% orang Indonesia tinggal di desa). Artinya, anak yang sekolah di desa lebih banyak ketimbang sekolah di kota. Namun, pemerintah daerah masih belum begitu peduli terhadap pendidikan desa. Lihat saja, fasilitas sekolahan di kota lebih menunjang ketimbang fasilitas sekolahan di desa. Padahal, sebagian besar anak-anak Indonesia sekolah di derah pedesaan.
Kurangnya perhatian pemerintah terhadap fasilitas sekolahan di pedesaan inilah yang mengakibatkan pendidikan Indonesia susah untuk maju. Akibatnya, jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, apalagi terhadap Singapura. Pemerintah seharusnya memahami, jika banyak anak yang sekolah di desa maka fasilitas sekolahan di desa juga harus di sediakan dengan baik. Mulai dari sarana dan prasarana. Infrastruktur sekolah juga penting, mengingat banyaknya pelajar di daerah desa.jika masalah-masalah seperti itu dapat teratasi dalam waktu dekat ini. Bukan tidak mungkin, pendidikan Indonesia akan berjalan seimbang antara di desa dan kota.
Senin, 28 Juni 2010


Kau menikmati kekalahan dari orang-orang yang lebih
Terkadang, kau jadikan malam sebagai tempat pesembunyian di balik kecaman mereka
Kau beranikan diri untuk tinggal di atas permukaan sungai yang kumuh
Kau biasakan menghirup udara kumuh setiap pagi
Sampah-sampah adalah penyambung kehidupanmu
Diterkam malam dan siang, berselimut kusutnya kain, kau istirahatkan setiap kau merasa lelah
Kamu adalah anak kecil, kamu adalah masa depan, setiap orang berharap kepadamu
Mengapa kau tetap dihidupkan?
Mengapa engkau menghiasi jalanan?
Mengapa engkau tak pernah berdoa?
Ataukah doamu belum terkabul!
(Tertulis, 21 Juli 2010)
Rabu, 23 Juni 2010
ia-siakan sehari pun terlewatkan dengan percuma. Tuhan selalu memberi kesempatan di setiap harinya. Tidak akan aku sia-siakan!
Senin, 21 Juni 2010


Pare, adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Terletak 25 km sebelah timur laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya. Pare berada pada jalur Kediri-Malang dan jalur Jombang-Kediri serta Jombang - Blitar. Sudah lama ada wacana Pare dikembangkan menjadi ibu kota Kabupaten Kediri, yang secara berangsur-angsur dipindahkan dari Kota Kediri. Namun niat ini tidak pernah serius dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten atau para Bupati yang menjabat. (mulai era Bupati H. Sutrisno, Wacana tersebut akhirnya benar-benar dibatalkan, karena akan mendapatkan protes dari warga di sebagian wilayah Kabupaten Kediri, terutama di daerah selatan-seperti Kras, Ngadiluwih, Kandat dan Ringinrejo dan di daerah barat sungai Brantas-seperti tarokan, Grogrol, Banyakan, semen dan Mojo. Sehingga diambil jalan tengah dengan menempatkan Pusat pemerintahan di wilayah Kec. Ngasem Kediri, tepatnya di Ds. Sukorejo (biasa disebut Katang) dan akan juga dibangun Pusat Bisnis di Wilayah Kota Baru Gumul.)
Kota Pare yang berada pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut ini mempunyai udara yang tidak terlalu panas. Berbagai jenis jajanan dan makanan enak dan higinis dengan harga "kampung" dapat dijumpai dengan mudah di kota kecil ini. Berbagai infrastruktur dan fasilitas kehidupan kota juga dengan mudah dapat dijumpai: hotel, rumah sakit (yang besar HVA dan RSUD rumah bersalin yang lengkap pun juga ada), ATM bersama, warnet 24 jam ber-AC, dsb.
Pare memiliki tanah yang subur bekas letusan gunung Kelud dan tidak pernah mengalami kekeringan. Produk agraria andalan dari Pare adalah bawang merah, biji mente dan blinjo. Sedangkan oleh-oleh khas dari Pare antara lain adalah tahu kuning dan gethuk pisang. Di Pare sudah lama bermunculan industri menengah bertaraf internasional, seperti industri plywood dan pengembangan bibit-bibit pertanian. Tempat-tempat rekreasi pun telah ada semenjak tahun 1970-an meskipun sederhana, seperti Pemandian "Canda-Bhirawa" Corah dan alun-alun "Ringin Budo"serta sentra ikan hias di dsn Surowono Desa Tertek.
Pare terutama Desa Tulungrejo juga dikenal mempunyai potensi pengembangan kursus Bahasa Inggris. Saat ini lebih banyak bermunculan berbagai jenis bimbingan belajar terutama kursus-kursus Bahasa Inggris. Lebih dari 20 buah lembaga bimbingan belajar menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan program program D2, D1 atau short course untuk mengisi waktu liburan. Dalam hal ini, kota Pare sebagai pusat belajar Bahasa Inggris yang murah, efisien dan efektif sudah terkenal hingga keluar Pulau Jawa. Sebagai efek ikutannya, di daerah Tulungrejo sekarang muncul berbagai jenis tempat penginapan dan kost yang menampung para pelajar dan maupun pekerja. Tarif kos per orang bervariasi dari 50 ribu hingga 200 rb per bulan.
Kecamatan Pare menjadi terkenal di seluruh dunia karena di sinilah antropolog kaliber dunia, Clifford Geertz - yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral - melakukan penelitian lapangannya yang kemudian ditulisnya sebagai sebuah buku yang berjudul The Religion of Java. Dalam buku tersebut Geertz menyamarkan Pare dengan nama "Mojokuto". Di Pare, antropolog ini sering berdiskusi dan berkonsultasi dengan Bapak S. Sunuprawiro (alm), waktu itu menjadi wartawan Jawa Pos. Pak Sunu merupakan salah satu narasumber yang membantu antropolog tersebut dalam menyelesaikan bukunya.
Pare termasuk kota lama. Ini terbukti dari keberadaan dua candi tidak jauh dari pusat kota, yakni Candi Surowono dan Candi Tegowangi, serta keberadaan patung "Budo" yang berada tepat di pusat kota. Ketiga peninggalan ini membuktikan bahwa Pare telah lahir ratusan tahun lalu. Hanya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti kapan kota Pare berdiri dan siapa pendirinya.
Pare merupakan KOTA adipura. sekolah sekolah faforit banyak berdiri di kota pare ini dari TK-SMA negeri. seperti TK negeri SDN pare 5 DLL madrasah ibtida'iyah. juga MtsN Model Pare dan SMP N 2 yang paling terkenal, di tangkat SMA ada SMA N 1 dan 2 merupakan SMA kelas Internasional dan juga ada MAN Krecek. (Wikipedia, 21 Juni 2010)
Sabtu, 19 Juni 2010


tergantikan sepercik mentari pagi. ketenangan di mana engkau sembunyi. Kenangan seperti dahulu yang ku mau. Aku tidak ingin terus seperti ini. Aku ingin keluar lepas dari derasnya ombak.Senin, 14 Juni 2010
Apa Bisa?

Minggu, 13 Juni 2010
Lebih Baik di Sini.
Jumat, 11 Juni 2010
Kebersamaan?
Ingin Tetap Ada
Senin, 07 Juni 2010
Andakah Penikmat Sejarah?
Keadaan seperti inilah yang membuat Bangsa dan Negara kita sulit untuk maju. Generasi muda adalah tulang punggung kehidupan Bangsa dan Negara sekaligus sebagai sarana untuk memakmurkan Bangsa dan Negara. Tak dapat dipungkiri, sekarang ini lebih banyak beredar film-film horor dari pada film perjuangan. Jika kita simak secara mendalam, apa manfaat setelah kita nonton film horor? Bahkan, film seperti itu sering berbau pornografi. Bermanfaatkah?
Mari! Kita nikmati sejarah panjang Bangsa dan Negara kita. Kita hidupkan lagi makna-makna perjuangan. jadilah penikmat sejarah maka sejarah itu akan mencatatkan anda dalam kisahnya. ( 8 Juni 2010)
